Thursday, June 30, 2011

SOMEONE IS WAITING FOR YOUR HELP (for a Kidney Transplant surgery)


Baru saja aku pulang dari menengok kerabat yang sakit. Sampai di rumah aku hanya bisa termenung mengingat apa yang baru saja aku lihat dan aku dengar.

Inilah sekilas tentang keadaan saudara Arief Rachman;

Hidup sendiri di tempat kost dalam keadaan sakit pastilah tidak mudah. Kondisi fisik dan keuangan tidak memungkinkan untuk pindah ke rumah yang lebih besar. Melihat itu, aku hanya bisa menangis di dalam hati.

Lima tahun sudah berjuang dan bergelut dengan penyakitnya. Saat itu aku dengar beliau mengidap ginjal bocor sehingga tubuhnya terisi air yang membuat seluruh badannya bengkak dan sakit.

Sudah beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, namun kondisi kesehatannya belum juga pulih. Padahal untuk biaya selama dirawat sangatlah tidak sedikit. Saat itu beliau masih mengandalkan penghasilan dari bekerja, juga bantuan dari kakak dan teman-temannya untuk pengobatan dan atau perawatan. Begitulah seterusnya selama lima tahun terakhir.

Masih teringat beberapa bulan lalu saat kondisinya terlihat membaik. Beliau bercerita tentang keinginannya untuk kembali bekerja juga harapan dan rencana di masa yang akan datang. Tentu saja aku senang mendengarnya.
Tapi kesenangan itu hanya sesaat saja terasa, karena suatu hari kondisinya tiba-tiba menurun dan mengharuskan beliau kembali dirawat di rumah sakit. Mungkin karena selama ini pengobatan rawat jalan tidak sampai tuntas hingga setiap kali beliau 'drop' kondisinya semakin parah. Organ-organ tubuh bagian dalam yang tadinya masih bekerja bagus, saat ini sudah kurang berfungsi normal. Tentu saja hal itu makin memperburuk kondisi beliau.

Ternyata belum cukup hanya disitu saja cobaan yang dihadapi. Sang kakak yang selama ini membantu biaya pengobatan dan rumah sakit saat ini sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk membiayai operasi. Teman-teman beliau juga tidak bisa membantu banyak karena masing-masing punya kebutuhan dan masalahnya sendiri.
Padahal

Dalam keadaan sakit dan tidak ada uang beliau dihadapkan pada kenyataan lain, yaitu: hasil pemeriksaan terakhir ternyata kondisi beliau sudah sangat menghawatirkan. Dokter memberi 2 pilihan pengobatan: 1. Cuci Darah, 2. transplantasi/Cangkok ginjal. Dimana keduanya adalah pilihan yang membutuhkan biaya yang sangat besar.


Dengan nafas yang tersengal-sengal diselingi rintih kesakitan, aku masih bisa melihat semangatnya untuk tetap bertahan dan sembuh. Meski sesekali terdengar nada pasrah terutama saat membicarakan tentang pengobatan selanjutnya.

Setelah cukup lama bertukar fikiran, aku meminta izin beliau untuk menceritakan keadaan beliau yang mungkin saja bisa mengetuk pintu hati para dermawan untuk membantu pengobatan beliau.

Dan saat ini saya dengan kerendahan hati mengajak dan memohon kepada anda untuk sekiranya dapat membantu saudara Arief Rachman.
Mohon maaf sekiranya ada jalur-jalur yang tidak saya lalui, karena ini pertama kali untuk saya. Saya juga belum sempat mencari informasi ini dan itu karena keadaan yang mendesak.

Apabilan anda tergerak untuk membantu silahkan hubungi no telepon +6287878607077.
Bantuan apapun, baik informasi ataupun donasi sangatlah diharapkan demi kesembuhan beliau.

Dibawah ini adalah alamat kos saudara Arief Rachman:
Jl. Nakula 3c JakaSetia, Bekasi Selatan


Kami menunggu respon baik dari anda. Atas perhatian dan kesediaan anda membaca, kami ucapkan banyak terima kasih.


**Sekilas tentang SINDROM NEFROTIK (ginjal bocor meski tak berlubang)
Menurut Dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD, KGH, ahli ginjal dari RS PGI Cikini, istilah ginjal bocor disebut sindrom nefrotik dalam dunia kedokteran. Artinya, kumpulan gejala yang menyangkut kerja organ ginjal. "Istilah ginjal bocor bukan berarti terdapat lubang pada ginjal, sehingga menyebabkan kebocoran," katanya.

Lalu, mengapa disebut ginjal bocor? "Ini untuk menggambarkan bocor atau keluarnya protein (albumin) dari dalam tubuh melalui air kencing (urin)," jawabnya.

Dalam keadaan normal, ginjal bekerja sebagai penyaring, sehingga protein tidak bisa keluar dari tubuh. Jika tubuh banyak mengeluarkan protein, otomatis kadar protein dalam tubuh pun menurun.

"Sifat albumin adalah menahan agar cairan tidak keluar dari pembuluh darah. Ketika tubuh kekurangan albumin, cairan mudah merembes keluar dari pembuluh darah, menyebabkan tubuh membengkak," sebut Direktur RS PGI Cikini ini.

Jika sudah demikian, tubuh akan melakukan penyesuaian karena kekurangan albumin. Salah satunya dengan memecah lemak dari seluruh tubuh, sehingga membuat kadar kolesterol naik.

"Jadi, gejala utama sindrom nefrotik atau ginjal bocor ini ada empat. Keluarnya protein melalui urin, kekurangan kadar albumin, tubuh bengkak, dan meningkatnya kadar kolesterol," katanya.

Selain empat gejala utama berupa bocornya protein lewat urin, kekurangan kadar protein dalam tubuh, badan bengkak, dan meningkatnya kadar kolesterol, masih ada beberapa gejala yang bisa menyertai sindrom nefrotik. Ini dikarenakan penyebabnya yang beragam dan bisa merembet ke bagian tubuh lain.

Gejala-gejala tersebut antara lain:

• Nafsu makan berkurang.
• Massa otot menyusut.
• Air kencing (urin) berbusa.
• Sesak napas akibat penimbunan cairan di rongga sekitar paru-paru.
• Lutut dan kantong zakar (pada pria) membengkak.
• Pada anak bisa terjadi penurunan tekanan darah ketika sedang berdiri. Tekanan darah penderita bisa rendah ataupun tinggi.
• Volume urin berkurang.
• Kekurangan nutrisi akibat hilangnya zat gizi, sehingga pertumbuhan bisa terhambat.
• Terjadi peradangan pada lapisan perut. Ini karena adanya infeksi di daerah perut. Infeksi ini diduga karena berkurangnya pembentukan antibodi atau hilangnya antibodi yang keluar bersama urin.
• Terjadi kelainan pembentukan darah yang bisa meningkatkan risiko pembekuan di dalam pembuluh darah.

No comments:

Flags

free counters