Sunday, May 8, 2011

seperti elegi tak berkesudahan

aku hanya bisa melihat
meski tak ingin ku lihat
aku hanya teruskan mendengar
meski tak ingin ku dengar
aku hanya mampu mengumpat
meski tak dapat ku ucapkan
aku hanya mampu kecewa
tak dapat berbuat apa-apa

entah kapan dimulai
entah kapan diakhiri

aku adalah bagian dari mereka
kakiku terikat di lingkaran dunia mereka
aku tak mampu keluar
hanya ikut terluka di dalamnya

aku ingin menghapus duka itu
ingin menghentikan kemelut itu
mengembalikan binar di wajah sendu
dibalik tubuh tua yang berisi pilu

sebuah kesetiaan yang sia-sia
bertahun pengorbanan tak terlihat
sabar menerima meski ditindas
tak juga terbalas oleh perubahan
bahkan
semakin menjadi
semakin berapi
semakin torehkan luka di hati

seorang wanita yang tak muda lagi
bagian dari hidupku
entah seperti apa bentuk hatimu
aku yang bukan dirimu
tak sanggup menahan rasa ini

mengapa
mengapa
mengapa

ribuan kali aku bertanya
tak ada satu juga jawab ku terima
kau hanya tersenyum
sesekali menangis
dan kembali tersenyum

begitu banyak pilihan untuk hidup
mengapa melilih terus dijalan itu
aku tak mengerti
sungguh tak mengerti

aku ingin membawamu pergi
aku tak ingin kau kembali
namun kau hanya tersenyum
di sela isak kau tersenyum
berbisik lirih,
"ibu baik-baik saja. ibu akan menjaga anak-cucu ibu sampai mati"

aku
lagi-lagi tak dapat berbuat apa-apa
menangispun sudah tak bisa
hanya sanggup berdoa
di sisa hidupnya
kiranya Tuhan berikan bahagia
di kehidupan selanjutnya
semoga tanpa sedikitpun luka

No comments:

Flags

free counters